Industri lokal akan produksi amunisi kaliber besar
Caesar [TNI]
Kerja sama pertahanan jadi salah satu fokus kerjasama strategis antara Indonesia dan Perancis. Dari tiga pilar modernisasi alutsista RI-Prancis--laut, udara, dan darat--sektor darat belum masuk tahap kontrak. Sistem artileri swagerak CAESAR disebut jadi kandidat utama.
Sumber dari Istana Élysée yang dikutip La Tribune menyebut Indonesia telah menyampaikan minat menambah pembelian CAESAR.
Pemerintah Prancis juga mulai menyiapkan aspek teknis. Pada Februari 2026, Armament Attaché DGA mengunjungi fasilitas PT Pindad di Bandung untuk mengecek kesiapan produksi, termasuk amunisi kaliber besar dan kendaraan pendukung.
Langkah ini merupakan lanjutan dari MoU antara PT Pindad dan KNDS pada Indo Defence 2025.
Kerja sama mencakup perakitan sistem artileri hingga produksi amunisi di dalam negeri.
Skema yang dibahas bukan sekadar pembelian, tapi juga produksi lokal. Pemerintah mendorong setiap pengadaan alutsista disertai alih teknologi dan manufaktur.
"Komitmen kami adalah untuk melakukan transfer perakitan, manufaktur, dan teknologi terhadap Indonesia dalam rangka memberikan kontribusi pada roadmap pemerintah Indonesia untuk kemandirian industri pertahanan nasional," ujar Gerard, Chief Representative KNDS Indonesia.
Saat ini Indonesia menjadi operator CAESAR terbesar di Asia Tenggara dengan 56 unit. Penambahan unit dinilai lebih efisien jika dibarengi produksi dalam negeri.
Jika proyek ini berjalan, industri pertahanan dalam negeri berpeluang memproduksi amunisi kaliber besar yang selama ini masih bergantung pada impor.
Pertemuan lanjutan akan digelar dalam waktu dekat. Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan Prabowo dijadwalkan kembali ke Prancis untuk membahas tindak lanjut kerja sama.
"Dan seperti kita ketahui bersama bahwa hubungan pribadi antar kedua Presiden merupakan sesuatu yang sangat dekat, yang akan merupakan sebuah modal besar dalam rangka meningkatkan hubungan bilateral antara Indonesia dan Prancis," ujar Sugiono. (fdl/fdl)
Caesar [TNI]Kerja sama pertahanan jadi salah satu fokus kerjasama strategis antara Indonesia dan Perancis. Dari tiga pilar modernisasi alutsista RI-Prancis--laut, udara, dan darat--sektor darat belum masuk tahap kontrak. Sistem artileri swagerak CAESAR disebut jadi kandidat utama.
Sumber dari Istana Élysée yang dikutip La Tribune menyebut Indonesia telah menyampaikan minat menambah pembelian CAESAR.
Pemerintah Prancis juga mulai menyiapkan aspek teknis. Pada Februari 2026, Armament Attaché DGA mengunjungi fasilitas PT Pindad di Bandung untuk mengecek kesiapan produksi, termasuk amunisi kaliber besar dan kendaraan pendukung.
Langkah ini merupakan lanjutan dari MoU antara PT Pindad dan KNDS pada Indo Defence 2025.
Kerja sama mencakup perakitan sistem artileri hingga produksi amunisi di dalam negeri.
Skema yang dibahas bukan sekadar pembelian, tapi juga produksi lokal. Pemerintah mendorong setiap pengadaan alutsista disertai alih teknologi dan manufaktur.
"Komitmen kami adalah untuk melakukan transfer perakitan, manufaktur, dan teknologi terhadap Indonesia dalam rangka memberikan kontribusi pada roadmap pemerintah Indonesia untuk kemandirian industri pertahanan nasional," ujar Gerard, Chief Representative KNDS Indonesia.
Saat ini Indonesia menjadi operator CAESAR terbesar di Asia Tenggara dengan 56 unit. Penambahan unit dinilai lebih efisien jika dibarengi produksi dalam negeri.
Jika proyek ini berjalan, industri pertahanan dalam negeri berpeluang memproduksi amunisi kaliber besar yang selama ini masih bergantung pada impor.
Pertemuan lanjutan akan digelar dalam waktu dekat. Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan Prabowo dijadwalkan kembali ke Prancis untuk membahas tindak lanjut kerja sama.
"Dan seperti kita ketahui bersama bahwa hubungan pribadi antar kedua Presiden merupakan sesuatu yang sangat dekat, yang akan merupakan sebuah modal besar dalam rangka meningkatkan hubungan bilateral antara Indonesia dan Prancis," ujar Sugiono. (fdl/fdl)
♞ detik
sumber : https://garudamiliter.blogspot.com/
0 Response to " RI-Prancis Garap Produksi Alutsista"
Post a Comment