![]() |
fot asli cut nyak din (kiri, berkerudung), foto palsu cut nyak din (kanan, tidak berkerudung) |
Belanda merupakan musuh yang menyerang Serambi Makkah, Aceh. Penyerangan ini menjadi pemantik perang di Aceh, apalagi dengan pembakaran Masjid Raya Aceh Baiturrahman. Ibarat percikan api disiram dengan minyak semakin besar kobaran apinya.
Negara penjajah ini menyatakan perang terhadap Aceh pada tanggal 26 Maret 1873. Mereka menghujani daratan Aceh dengan meriam dari kapal perang Citadel Van Antwerpen. Kemudian pasukan kafir ini, mendarat di pantai Aceh, dilanjutkan dengan menduduki istana kesultanan.
Masjid Raya Aceh yang terletak di depan istana kesultanan pun tak luput dari serangan. Masjid raya menjadi benteng terakhir para mujahidin Aceh. Belanda pun mengempur habis-habisan Masjid Raya Baiturrahman. Lalu masjid raya berhasil dikuasai belanda kemudian dibakar.
Pembakaran masjid raya ini menyadarkan rakyat Aceh. Bahwa Belanda adalah musuh yang harus dilawan. Mereka tersadar bumi Aceh sedang dijajah oleh bangsa asing. Mereka pun mengobarkan perang dengan semangat Jihad Fi Sabilillah.
Gayung pun tersambut. Rayat Aceh menyambut seruan jihad dengan gagah berani. Harta, tenaga, dan pikiran, bahkan nyawa ikut dikorbankan untuk mengusir penjajah kafir Belanda. Meskipun persenjataan Belanda lebih banyak dan lebih modern, tetapi itu tidak menciutkan nyali rakyat Aceh.
Mereka memiliki senjata yang lebih utama dari itu semua yaitu senjata iman di dalam dada. Keimanan yang kuat akan pertolongan Allah membuat mereka tak gentar menghadapi musuh sehebat apapun.
Perang Aceh disambut dengan penuh semangat oleh semua lapisan masyarakat. Dari rakyat jelata, bangsawan, hingga sultan Aceh. Mereka bersatu padu, seiya sekata. Mereka semua memenuhi panggilan jihad suci dengan semangat bergelora.
Seluruh rakyat Aceh merayakan kemenangan pertama tersebut dengan suka cita. Mereka menyangka bahwa musuh telah kalah dan tak akan mengganggu kedaulatan Aceh. Tapi ternyata dugaan mereka salah. Setelah kemenangan tersebut, Ibrahim Lamnga beserta Cut Nyak Din kembali ke kampung halamannya di Lampisang.
Meski perempuan, tetapi ia tak mau ketinggalan menyambut seruan suci tersebut. Cut Nyak Din memimpin kelompok perempuan dan anak-anak untuk mengungsi ke daerah yang aman. Sementara Teuku Cik Ibrahim Lamnga maju bertempur di garis depan bersama prajurit lainnya.
Kemenangan pasukan Aceh di pertempuran pertama tersebut ternyata tidak bertahan lama. Belanda mundur dan menyusun kekuatan kembali. Setelah delapan bulan mengumpulkan kekuatan, Belanda melancarkan serangan balasan. Mereka mendatangkan bala bantuan dari Batavia sebanyak 13.000 prajurit yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Van Swieten.
Bala bantuan tentara Belanda ini mendarat di Aceh pada 9 Desember 1873. Kampung halaman Cut Nyakdin,yaitu Mukim VI diluluhlantakan. Sedangkan istana Kesultanan Aceh dikuasai pada 24 Januari 1874.
Seluruh rakyat Aceh menyadari bahwa keadaan Aceh sudah genting. Tapi mereka tidak takut. Mereka bersumpah akan mempertahankan Aceh hingga titik darah penghabisan.Teuku Cik Ibrahim Lamnga memimpin perang gerilya di daerah Mukim VI. la meninggalkan Cut Nyak Din dan putranya dalam waktu cukup lama.
Bersama prajurit lainnya, ia hidup berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lainnya, la selalu bertempur dengan gagah berani di garis depan. Dalam suatu pertempuran di GleTarum, ia menemui kesyahidannya pada tanggal 29 Juni 1878. Teuku Ibrahim Cik Lamnga syahid setelah 5 tahun berjuang mempertahankan bumi serambi Mekah.
Setelah kematian suaminya, Cut Nyak Din tetap teguh dalam perjuangan. Sebenarnya banyak tokoh yang ingin mempersunting dirinya. Tapi Cut Nyak Din telah bersumpah bahwa ia hanya akan menikah dengan pejuang yang mengijinkan dirinya turut serta mengangkat senjata.
Sungguh sebuah syarat yang sangat heroik. Adalah Teuku Umar, seorang pejuang yang cerdas memberanikan diri untuk melamar Cut Nyak Din. la mengijinkan dirinya berjuang bersama di garis depan.
Hati Cut Nyak Din pun luluh. Akhirnya ia melepas status janda yang telah disandangnya selama dua tahun. Mereka melangsungkan
pernikahan di tahun 1880. Berita pernikahan dua tokoh pejuang gagah berani ini membangkitkan kembali semangat rakyat Aceh'.
Mereka berperang secara gerilya dan bersembunyi di hutan belantara. Berpindah dari satu hutan ke hutan lainnya. Sampai suami keduanya, Teuku Umar Juga menemui kesyahidannya dalam medan jihad melawan Belanda. Cut Nyak Din mengambil alih tampuk kepimpinan, melanjutkan perjuangan sgaminya. Usianya sudah tidak muda lagi, 51 tahun. (Anwar)
Artikel selanjutnya: Akhir Perjuangan Jihad Cut Nyak Din
Daimbil dari Majalah An Najah, Edisi 1271 Sya'ban - Ramadhan 1437 H | Juni 2016.
sumber : http://www.jurnalmuslim.com
0 Response to "Balada Jihad Cut Nyak Din"
Post a Comment